Kamis, 09 Juni 2011

suka & duka menjadi OP warnet

hmm.... mulai dari mana yach!!!!!!!
dari sana ja dech hehehehe
!!! tadi malam waktu jaga ada seorang pelanggan yang berbincang² dengan saya gini kira² hehehe ...

pelanggan : "Mas saya mau ngelamar kerjaan lewat internet"
Saya : "Bapak punya email?"
Pelanggan : "gak punya mas, kata temen saya nyari kerja di internet gampang.
minta di carin aja sama yang jaga-nya"
Saya : "Wah kalo gampang saya gk kerja disini pak hehehe"



Hem itu saya yang salah pengertian atau bapanya yang bego yach heheheheh !!!

Langsung ja dech saya mau beri saran pada yang baca nih yang pengen mau jadi OP warnet kenapa? hmm...

apakah kalian tau... kalau kalian pergi ke warnet pagi² sekali,ada orang yang matanya terkantuk dan mulai salah memberi uang kembalian kalian…. dia adalah operator warnet yang jam kerjanya tidak akan terbayangkan oleh kalian...
pengaturan shift yang tidak biasa telah menjadi makanan sehari2nya... jam kerjanya biasanya tidak tentu...dan setiap shiftnya memakan waktu 7-8 jam.. jadi bayangkan saja, jika 8 jam satu hari...kalikan saja 26 hari...jadi 8x26 = 208 jam sebulan....waduch ya ampun sekarang ja saya ngantuk banget nich!!!
yang ga' enak nya waktu tiba datang malam minggu... dimana semua cowok sibuk² nya ngapelin cewek nya, eh malah saya ngapelin layar monitor dan keyboard komputer ...hehehehe... nasib² ...
dengan gaji pas²an UMR, operator warnet tetap setia melayani pelanggan...hehehe?

Operator warnet adalah orang yang multi talented people dan pintar.... akan saya beritahu..kenapa saya bilang multi talented!!!... haha karena saya operator warnet ckckkckckck  gini² alasannya.

Operator warnet merangkap beberapa pekerjaan :

- Teknisi Komputer : yaiyalah !!! kalo komputernya rusak?yang benerin kita² juga...

- Software Analyze : ini lagi....software segala macam seharusnya sudah di luar kepala ?

- Friendster,Facebook Expert : ini khusus buat ngajarin anak sma-smp gaptek yg pengen ikutan tren FB

- Cleaning Service : ini khusus shift malem,luar biasa?sehabis begadang anda diharuskan membersihkan warnet .

- Ahli Pembukuan : menjadi ahli akuntansi mendadak ketika mencatat pengeluaran/pemasukan/stok/sekalian jadi orang purchasing.

- Psikiater : bayak juga orang curhat ma operator.

- Kuli Angkut : luar biasa....berat juga ngangkat minuman berkrat²....

- Gamers : ini syarat mutlaknya......kemungkinan besar kalo jadi GM game Online,dia bakal betah nangkring di kompi berjam2.....

- Network Expert : Network Connection and Sharing! itu mah udah makanan sehari-hari....!!!!



hehehe kata² nya kerenkan saya kan sering belajar di google ckckck ... :)


ini cuma sedikit preview dari pekerjaan saya, pokonya susah senang dech kalo mau jadi operator warnet...
Oya hmm... huft :(   klo pas kita udah berhenti kerja trus mau ngelamar kerja kalo mau nulis di daftar riwayat hidup PENGALAMAN KERJA : OPERATOR WARNET hahaha ... : D
gitu aja mungkin ya!!!

Minggu, 05 Juni 2011

Apakah Tuhan Menonton Pertandingan Sepak Bola?

Kalau pertanyaan ini Anda tanyakan kepada pelatih Timnas Italia di Piala Dunia 2002, Giovanni Trappatoni, maka ia akan menjawab mantab: tentu saja!

Menarik benar membedah pernyataannya itu. Ketika diwawancarai Reuters atas keberhasilannya membawa Timnas Italia lolos ke babak 16 besar, Trappatoni menjawab dengan unik. Tak seperti pelatih kebanyakan yang kerap menjawab pertanyaan wartawan dengan apologi sebab akibat dan sangat taktis sekali bagaikan sebuah rumus resmi, Trappatoni saat itu menjawab bahwa Tuhan pasti menonton setiap pertandingan sepak bola. Termasuk ketika timnya mampu lolos dari lubang jarum ke babak 16 besar Piala Dunia 2002. Saat itu Italia yang tergabung dalam Grup G memang hanya butuh hasil imbang karena di saat bersamaan pesaing utama Kroasia kalah dari Ekuador.
Meski sempat tertinggal lebih dulu lewat gol striker Meksiko, Jared Borgetti di menit 34, Italia mampu membalas lewat gol Alessandro Del Piero di menit 85. Hasil ini sangat disyukurinya. Maka ia tak lupa memuji Tuhannya. “Saya melafalkan doa saya yang biasa. Keadilan dan Tuhan itu ada. Saya percaya Tuhan menonton pertandingan dan Ia akan melakukan keadilan. Kami memiliki lima atau enam peluang bagus dan salah satunya pasti berhasil berdasar keadilan itu,” beber Trappatoni kepada media usai laga.
Sebagai umat beragama, tentu saja saya yakin Tuhan maha melihat. Ia melihat apa saja di atas bumi ini, termasuk menonton pertandingan sepak bola pastinya. Namun apakah Tuhan akan bersikap netral? Atau apakah Tuhan akan memenangkan satu tim yang didukungnya?
Pertanyaan itu tak layak diperdebatkan dan direnungkan. Karena jawabannya akan menuju ke hal-hal mistis di luar akal sehat manusia. Tuhan menciptakan takdir. Tapi bukan takdir itu yang hendak dibahas di sini. Yang akan dibahas adalah keterpautan antara sepak bola dan unsur misteri itu sendiri. Unsur mistis yang dikait-kaitkan Trappatoni dalam pesta sepak bola terbesar di bumi itu.
Membawa-bawa Tuhan ke arena sepak bola tampaknya kurang etis. Karena Tuhan dibutuhkan di setiap arena kehidupan. Maka itu, keterlibatan Tuhan akan menjadi sesuatu yang gaib bin mistis. Seperti sepak bola itu sendiri: penuh misteri-seperti yang kerap diutarakan pelatih kampung: Suimin Diharja.
Bicara misteri dalam sepak bola, saya sebenarnya tak ingin terlena dan percaya. Tapi media sekelas Reuters kadang terperangkap dalam ulasan-ulasan seperti itu. Reuters kerap mencari-cari sisi unik dari pergelaran sepak bola. Tujuan utama mereka merangkai hal-hal mistis acap kali berakhir di Benua Hitam Afrika. Saban digelar Piala Afrika, Reuters akan mengirim reporter terbaiknya untuk mencari-cari unsur mistis di ajang itu.
Dan Reuters memang berhasil melaporkan hal-hal ganjil yang kerap membuat bibir ini menyungging senyum. Salah satu yang ditemukan Reuters adalah kebiasaan vodoo para dukun pembela tiap negara yang bertarung. Laporan Reuters menyebutkan praktik spiritual bersifat mistis seperti mengorbankan binatang dan mengubur beberapa bagiannya di Gurun Sahara. Banyak bubuk dan cairan aneh berbau melingkari bagian tertentu di gurun itu.
Namun Konfederasi Sepak Bola Afrika melarang para tukang sihir itu masuk stadion saat berlangsung kompetisi tertinggi di benua itu. Bahkan di ajang Piala Dunia perdukunan dan unsur mistis kerap terjadi meski dalam skala minor. Trappatoni termasuk satu yang percaya hal-hal demikian. Buktinya di Piala Dunia 2002, Trappatoni kerap melakoni ritual menciprat-cipratkan air ke bangku pemain cadangan dengan tujuan yang sulit dijelaskan. Wah.
Itu semua sekelumit kisah di pentas sepak bola dunia. Apakah di negeri sendiri hal itu ada? Jawabannya tampaknya sama.
Baru-baru ini saya mendengar kalau PSMS Medan mengalami hal sama. Saat ditahan imbang 3-3 oleh Persiba Bantul yang sekaligus menggugurkan keinginan PSMS main di ISL musim depan itu, ada pengakuan unik bahwa para pemain seperti kena gendam. Unsur mistis mulai menggeliat sehari sebelum pertandingan itu. Salah satu yang kena adalah bek PSMS, Rahmat. Menurut pengakuan Asisten Manajer, Benny Tomosoa, Rahmat tidak bisa menggerakkan badannya dan tak bisa tidur sehari sebelum pertandingan. Menurut Benny, Rahmat kerap diikuti makhluk tak berwujud dan kondisi itu mengganggu kondisi psikis dan fisiknya. Alhasil, Rahmat tak turun di partai penentuan itu.
Tapi dugaan mistis itu sempat sirna ketika akhirnya PSMS berhasil unggul 3-0 di babak pertama. Semua lena dan yakin benar bahwa ISL sudah di depan mata. Tapi apa cerita? ternyata di babak kedua unsur mistis datang lagi.
Dibilang Benny pemain semua mengaku kalau di babak kedua itu mereka seperti tertekan benar dan sulit berkonsentrasi. Bahkan ada yang mengaku mereka seperti sulit sekali menggerakkan tubuhnya. “Saya tak pernah percaya yang begini. Tapi kami mengalaminya. Tidak akan ada yang percaya seperti saya juga tak akan percaya dengan kondisi mistis seperti ini. Tapi bagi yang mengalami barulah mereka percaya bahwa unsur mistis itu sendiri sebenarnya ada dalam sepak bola,” kata Benny tak bermaksud cuci tangan atas kegagalan PSMS ke ISL musim depan.


" hanya mereka yang tau"

Ketika Ribuan Benih PSMS Dibunuh


Kalau Anda mencintai PSMS Medan, mestinya saat ini Anda layak menangis. Tim yang pernah menyandang nama besar di kancah sepakbola nasional, kini telah mengerucut menjadi tim yang lunglai dan sekarat.

Seberapa gemuruh Anda melihat Stadion Gelora Bung Karno saat Timnas Indonesia bertanding di Piala AFF Suzuki 2010 lalu? Merah di setiap sudut, hiruk pikuk terompet dan petasan bergemuruh nyaris dari seluruh sisi stadion. Statistik mencatat, sekitar 80 ribu penonton memenuhi stadion dalam setiap laga Timnas Indonesia.
Tak ayal, kehadiran puluhan ribu penonton itu seakan membangkitkan kembali euphoria publik terhadap sepakbola nasional. Semua pihak seakan baru menyadari bahwa sepakbola telah menjelma menjadi suatu kekuatan baru pemersatu, sekaligus manifestasi dari harkat dan martabat suatu bangsa.
Namun, sadarkah Anda bahwa fenomena yang ditunjukkan Timnas Indonesia sebulan lalu itu, sesungguhnya telah dikalahkan oleh dua tim ‘lokal’, yakni PSMS Medan dan Persib Bandung, 25 tahun lalu? Jika Timnas Indonesia bertanding mewakili seluruh bangsa, PSMS dan Persib hanya mewakili dua daerah di nusantara, tapi telah mengalahkan gaung yang baru ditunjukkan Timnas Indonesia sekarang.
Ya, Final Kompetisi Divisi Utama Perserikatan tahun 1985 yang mempertemukan PSMS Medan versus Persib Bandung tercatat sebagai pertandingan sepakbola paling fenomenal dalam kancah sepakbola Indonesia. Ada dua indikasi yang memperkuat itu.
Pertama, menurut buku Asian Football Confederation (AFC) terbitan 1987, pertandingan itu ditonton oleh sekitar 150.000 orang. Bobotoh Persib dan suporter PSMS membuat Senayan banjir manusia. Spanduk “Kami Medan Bung” berkibar di seluruh penjuru stadion.
Ini merupakan pertandingan terbesar dalam sejarah sepakbola amatir di dunia. Saat itu kompetisi perserikatan masih digolongkan ke dalam liga amatir karena para pemainnya belum diikat kontrak yang jelas.
Kedua, meskipun penontonnya demikian banyak, kedua suporter tak saling bentrok sepanjang dan hingga usai pertandingan. Suporter PSMS Medan yang secara geografis lebih jauh dari Jakarta dibanding Jawa Barat, saat itu dikenal sebagai suporter fanatik yang santun. Bahkan, Mamek Sudiono, salah seorang pilar PSMS Medan saat itu pernah menceritakan betapa merindingnya dia memasuki Senayan ketika puluhan ribu suporter PSMS meneriakkan koor horas berkali-kali.
Dan yang lebih penting lagi, fanatisme luar biasa yang ditunjukkan para suporter PSMS  itu dibayar tunai oleh Ponirin Meka dkk. Mereka sukses memboyong Piala Presiden ke Medan setelah menang melalui drama adu penalti 2-1, menyusul hasil imbang 2-2 pada waktu normal.
Semakin fenomenal, karena itu adalah keberhasilan PSMS beruntun kedua kalinya setelah mengalahkan lawan yang sama dua tahun sebelumnya. Tahun 1983, Ayam Kinantan juga mengalahkan Persib Bandung 3-2 di partai final melalui drama adu penalti setelah keduanya bermain imbang tanpa gol melalui waktu normal dan perpanjangan waktu.
Namun apa boleh buat, itulah catatan terakhir Ayam Kinantan mengepakkan sayapnya dalam puncak sepakbola Indonesia. Selepas itu, sepakbola Sumut (Medan) boleh dikata terlelap dalam tidur panjangnya. Kalaupun sempat menggeliat sebentar, hanya saat tim sepakbola Sumut meraih medali emas di PON tahun 1993.
Jika itu dimasukkan sebagai bagian dari catatan keberhasilan sepakbola Medan, berarti bisa disebut bahwa 17 tahun sudah publik sepakbola Medan puasa prestasi. Pelan-pelan, nama PSMS Medan semakin tenggelam dalam riuh rendah pembicaraan publik sepakbola nasional. Tak salah, karena kini PSMS satu kasta dengan tim ‘antah berantah’ selevel Persires Rengat dan Persih Tembilahan. Tanpa bermaksud meremehkan, PSMS sekarang hanya bertanding melawan tim-tim kemarin sore yang tak pernah sekalipun menorehkan nama timnya di papan skor Stadion Senayan sejak stadion itu diresmikan Bung Karno pada 24 Maret 1956. 
Dua tahun belakangan inilah prestasi PSMS benar-benar berada di titik nadir dalam sejarah sepakbola nasional. Dua musim berlaga di kasta kelas dua liga sepakbola Indonesia, tentu merupakan catatan memalukan bagi tim bernama besar sebesar PSMS.
Tragisnya, di tengah jalan menukik yang semakin meluncurkan PSMS ke titik nadir itu, terjadi pula dekadensi militansi para pendukungnya. Kini, sulit rasanya berharap militansi puluhan ribu perantau asal Sumut akan membanjiri Stadion GBK saat PSMS bertanding, seperti yang mereka tunjukkan di tahun 1980-an. Jika pun ada, harus pahit mengatakannya, bahwa faktor mobilisasi berbau untung rugi yang lebih memegang peranan.
Apa yang terjadi dengan pembinaan sepakbola di Sumut pada umumnya, dan Medan pada khususnya? Kemana militansi suporter yang dulunya sangat ditakuti oleh suporter dari tim manapun itu?
Harus diakui, pembinaan sepakbola di daerah ini memang nyaris tidak berbentuk. Indikasinya cukup sederhana, kompetisi klub binaan PSMS sudah beberapa tahun ini tak pernah bergulir lagi. Padahal, seorang pemain bertalenta hanya bisa terpantau dan terasah dari sebuah kompetisi yang rutin dan berkesinambungan.
Bagaimana mungkin manajemen PSMS bisa mengetahui bahwa ada anak Medan yang lihai dan ngotot berjibaku di lapangan hijau, kalau mereka sendiri tak pernah ditampilkan dalam rentetan laga berlabel kompetisi?
Tak ayal, 40 klub di bawah naungan PSMS kini hanya main bola ‘ecek-ecek’ karena mereka tidak difasilitasi untuk menunjukkan kemampuannya dalam suatu ajang kompetisi. Bahkan, sebagian di antaranya telah benar-benar mati suri, walau masih ada pengurusnya yang mengatasnamakan tim itu ketika rapat-rapat tentang PSMS digelar secara sporadis.
Tahun lalu, polemik ini sempat mengemuka, dan sebagian jajaran pengurus PSMS di bawah kendali Wakil Wali Kota Medan Dzulmi Eldin sempat berkoar di media bahwa kompetisi PSMS akan digelar lagi. Namun, janji itu hanya tinggal janji. Hingga tulisan ini dibuat, kompetisi 40 klub tersebut yang sejatinya dibagi dalam beberapa divisi tak pernah terselenggara.
Karena itu, tidak bisa tidak, jika PSMS ingin kembali bangkit dari tidur panjangnya, kompetisi antarklub di bawah naungan PSMS itu harus diaktifkan kembali. Manajemen PSMS tak bisa begitu saja menyerahkan urusan tersebut kepada Pengda PSSI. Sebab, toh pada akhirnya, PSMS lah yang akan menuai keuntungan dari kompetisi itu berupa penemuan bakat-bakat pemain yang kelak bisa memperkuat Ayam Kinantan.
Banyak keuntungan sebenarnya yang bisa didapat manajemen dari bergulirnya kompetisi itu. Satu yang terpenting adalah meminimalisasi cost pembayaran kontrak pemain yang saat ini memang sudah di luar nalar. Sebagai pemain yang lahir dan terasah dari sebuah kompetisi intern, tentu akan lebih ekonomis ketimbang merekrut pemain jadi.
Tidak itu saja. Militansi pemain yang memang berasal dari Medan atau Sumut pada umumnya tentu akan jauh lebih kuat ketimbang pemain yang tiba-tiba memperkuat PSMS hanya karena hitungan fulus bertopengkan profesionalitas.
Betul, sepakbola hari ini memang telah mengarah kepada profesionalisme yang cenderung kapitalis, tapi militansi dan fanatisme kedaerahan adalah suatu hal yang tak bisa dinilai dengan uang. Sentuh mereka dari sisi itu, dan saya percaya masih banyak bibit pesepakbola Medan yang memilikinya. Hanya saja belum tersentuh karena manajemen sendiri tak pernah berupaya menyentuhnya.
Bagaimana soal dana? Rasanya teramat miris jika manajemen senantiasa melantunkan lagu lama itu untuk tidak menggelar laju kompetisi. Harus dipahami, aturan APBD yang tidak dibenarkan untuk tim sepakbola, tidaklah berlaku jika digunakan untuk menggelar suatu pembinaan sepakbola.
Masalahnya, ketika manajemen masih tetap menggunakan APBD dengan beragam pembenarannya, tapi mereka seakan menutup mata bahwa APBD itu selayaknya digunakan untuk membina bibit-bibit pemain muda. Ambivalensi yang sempurna telah ditunjukkan para pengurus PSMS sejak beberapa tahun lalu hingga kepengurusan yang sekarang.
Miliaran rupiah dana APBD tetap mereka ambil dengan mengatasnamakan PSMS sebagai tim milik masyarakat Medan, tapi mereka seakan menutup mata ketika talenta ribuan pesepakbola Medan mati sebelum lahir.
Ya, mati sebelum lahir, karena manajemen tak memberi mereka ruang untuk tumbuh dan berkembang. Hanya keajaiban berbau mukjizat jika pun ada satu dua bakat pesepakbola Medan itu yang terendus.
Lantas, jika sudah begini, masih layakkah militansi itu muncul dari publik Medan? Mungkinkah orang yang tak pernah merasa dilibatkan akan mempunyai rasa memiliki? Mungkinkah orang yang telah dibunuh talentanya akan merasa penting untuk membela panji-panji kebesaran Ayam Kinantan dengan semangat ala rap-rap yang sempat mencengangkan mata publik sepakbola nasional puluhan tahun yang la

Rabu, 01 Juni 2011

Hati-hati patah hati



Ngomongin soal patah hati, pasti ga akan lepas dari yang namanya cinta. Kalo sudah ngomongin soal cinta, maka ceritanya panjang neh. Tul ga? Dari awal mula manusia diciptakan sampe nanti hari kiamat, cerita tentang cinta ga akan pernah bosan diperbincangkan dan ga akan pernah hilang ditelan zaman. Cerita cinta memang ga selamanya indah. Kadang ada yang berakhir dengan tawa, ada juga yang berakhir dengan linangan air mata. Dan patah hati adalah salah satu ending dari cerita ini. Yup. Bad ending (ihiks…..ihiks sedih sekali).
Kata Bang Meggy Z sih, patah hati itu lebih sakit daripada sakit gigi. (kok jadul banget ya…hehehe). Tapi yang paling bener adalah patah hati itu lebih sakit daripada ga patah hati (yeee… ya iyalah!). Nah, kalo sudah kena yang namanya patah hati, hidup serasa mau kiamat, langit runtuh, bumi seakan gelap meskipun ada mentari yang bersinar. Hari-hari terasa sepi karena ga ada pujaan hati. Hati ini tersiksa, seolah mendapatkan penyakit langka yang ga akan pernah ada obatnya. Diri ini semakin sendiri, tidak ada teman yang menemani. Dan kalo sudah begini seakan tidak berguna lagi hidup ini, dan hanya ingin mengakhiri. Terlalu didramatisir nih. Terlalu.
Apa emang bener begitu, kalo kita patah hati? Apa ga ada harapan lagi yang tersisa hingga kita harus mengakhiri hidup? Stop! Slow Down Baby…..Tunggu dulu. Ikutin terus. Capcus !!
Emang bener kata Bang Meggy Z tadi, bukan kamu aja yang pernah patah hati. Dari zamannya Nabi Adam, sudah ada yang yang namanya patah hati, bukan barusan muncul aja. Dan gara-gara patah hati orang bisa gelap mata dan kehilangan akal sehatnya (siapa yang menemukan harap di kembalikan, emang akal sehat kaya dompet). Eit, dampaknya macem-macem ditimbulkan hanya gara-gara patah hati. Contoh saja, salah satu anak Nabi Adam, Qabil, rela membunuh saudaranya sendiri, Habil, gara-gara patah hati.
Sobat, komputer kamu pernah kena virus hallo.roro.htt? Konon juga katanya virus ini dibuat gara-gara si pembuatnya broken heart kepada kekasihnya yang bernama Roro.
By the way, ga sedikit juga orang yang kena patah hati, larinya ke dukun. Ngapain? Pastinya bukan cari obat, kalo cari obat ya ke dokter atau ke apotek. Yup, bener banget. Ada istilah Cinta Ditolak, Dukun Bertindak. Apalagi kalo ga melet si pujaan hati biar balik lagi sama dia. Kalo sudah begini, syirik namanya fren.
Patah Hati, Bisa Mati?
Apa bener se, patah hati bisa bikin kita mati? Siapa yang bilang? Kalo kamu pikir setelah patah hati kudu mati, maka pikiran kamu sempit banget. Jangan khawatir sobat, sebab patah hati atau putus cinta itu ga akan membuat kita mati. Karena cinta itu hanyalah naluri manusia, bukan kebutuhan pokok seperti makan dan minum. Manusia bisa meninggal kalo ga makan 7 hari dan tanpa air selama 3 hari. Kalo rasa cinta ga terpenuhi, kita hanya akan merasa gelisah, ga sampe mati. Paling-paling cuma ga mandi selama 7 hari 7 malem. Ngapain aja ga enak. Tidur ga enak. Makan, ga nafsu. Kita jadi sendiri, ga ada yang mau deketin kita. Siapa yang mau deketin…..Bauuu’. Suer, ga sampe mati. Hanya tindakan apa yang kita lakukan ketika patah hati itu yang harus kita pikirkan, kita bisa memilih. Mau mati, mau bikin playboy tandingan, atau mau bangkit dan melupakan yang sudah-sudah.
 Jadi buat kamu yang patah hati karena diputusin pacar, atau gagal saat melamar, jangan sedih dulu, dunia belum kiamat. Cuma rasa patah hati ini walau sudah dikuat-kuatin, kata Mulan Jameela tetep aja kita bukan Wonder Woman yang hatinya bukan terbuat dari besi dan baja, bisa remuk dan hancur. Semua fakta di atas adalah bukti perasaan yang lebur saat menjalani hubungan yang ga resmi dan bubar di tengah jalan. Pacar-pacar mereka pergi begitu saja. Ada yang alasan ga cocok, banyak juga karena berpindah ke lain hati. Hal yang sama juga dialami ketika gagal dalam melamar. Ada perasaan perih di hati ditambah rasa malu.

Patah hati atau bahasa kerennya broken heart itu bisa karena dua hal, diputusin pacar atau ditolak saat ngelamar. Tapi kalo dilihat pergaulan zaman sekarang, sebab patah hati kebanyakan adalah karena pacaran. Dan pacaran adalah gaul yang salah total. Kalo dilihat dari segi apapun, pacaran lebih banyak bikin kesel hati daripada suka hati. Status hubungan pasangan ini ga jelas, ga sah dan yang pasti ga serius. Malah ga sedikit juga sampe melakukan hal-hal yang ga ga, misalnya aja sex pra nikah dengan dalih kesetiaan. Hayo ngaku!!
Ketika para aktivis pacaran itu ditanya tentang keseriusan mereka untuk merit, mereka pasti bilang, “Lihat aja nanti deh, yang sekarang kita jalanin aja dulu.” Kok mau sih digombalin sama pacar kamu? Apalagi mereka masih mengenakan putih-abu abu, putih biru dan ada juga yang putih merah, mana bisa mau dan siap nikah cepet-cepet. Artinya kamu itu sudah sejak awal bikin peluang besar untuk putus dan berlinangan air mata. Iya kan?
Sedangkan Islam ga pernah ngajarin yang namanya aktifitas pacaran. Dan itu berarti Islam memperkecil volume patah hati yang memang perih banget kalo dirasakan.
Kita ngasih alternatif, kalo obat hati itu ada lima, maka obat patah hati juga ada lima :
1. Jangan mendramatisir keadaan
2. Putus asa itu dosa
3. Jangan malah menyendiri 
4. Perbanyak kegiatan positif
5. Bersyukur, berusaha dan doa

Dan jangan lupa berdoa karena Allah pasti akan kasih jalan keluar yang terbaik buat kamu. Pasti deh !!!

Kartini bukan Kartono



Ketika kalender menunjukkan angka 21 di bulan April, pasti terlintas dalam benak kita sosok pejuang wanita, R.A. Kartini. Bahkan kalo kita lihat sekeliling kita, banyak digelar parade kartini yang memakai kebaya plus tak ketinggalan kondenya.
Bahkan, banyak aktivis perempuan yang katanya memperjuangkan hak wanita agar sama dengan pria, membawa-bawa nama Kartini sebagai simbol pejuang feminisme. Gerakan ini berusaha, bagaimana pun caranya, agar wanita bisa menduduki posisi yang biasanya didominasi pria, meskipun harus mengabaikan nilai budaya apalagi agama. Walhasil, bisa kita lihat sekarang, banyak sekali bertebaran wanita karier di perkantoran. Bahkan kini sedang diperjuangkan agar wanita bisa menduduki banyak kursi di dewan perwakilan, lebih kenceng lagi berusaha menjadi presiden. Kecerdasan dan penampilan menarik wanita pun dieksploitasi habis-habisan.
Gals, coba kita tengok, yang biasanya jadi sales promotion itu cewek apa cowok?, yang biasanya dimajukan ketika mengajukan lobi, atau memamerkan barang produksi itu cewek ato cowok? Bahkan bukan jadi rahasia lagi, jasmani wanita pun banyak dieksploitasi di berbagai tempat hiburan, yang dilindungi pemerintah demi pemasukan pajak pendapatan.
Gals, kalo kita tilik sejarah lagi, ternyata Kartini yang banyak bergaul dengan noni-noni Belanda memang pada awalnya menganggap budaya Eropa/Belanda sebagai budaya yang tinggi dan patut dicontoh. Namun semenjak dia mempelajari Islam melalui Al-Qur’an, dia menjadi sadar, dan menganggap ideologi kebebasan yang digembar-gemborkan Eropa tak layak disebut peradaban.
Dalam salah satu suratnya kepada gurunya, Kyai Sholeh Darat, dia menulis, ”Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Al-Qur’an yang isisnya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an dalam bahasa Jawa? Bukankah Al-Qur’an itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”. Subhanallah gals, hanya belajar satu surat saja, pemikiran Kartini langsung berubah, bagaimana ya kalau beliau sudah mempelajari Al-Qur’an sampai surat An-Nur dan Al-Ahzab. Mungkin gambar Kartini yang sekarang kita lihat bukan berkonde, tapi berkerudung dan berjilbab.
Gals, Kartini sebenarnya berjuang agar wanita Indonesia menjadi cerdas dalam mendidik anak dan mengolah rumah tangga. Bukan berlomba-lomba kerja kantoran dan melalaikan kewajibannya mengatur rumah tangga. Karena memang maju tidaknya sebuah negara ditentukan oleh bagaimana wanitanya, yang punya peranan penting dalam menyiapkan generasi bangsa.
Islam memang agama yang tock cer, Islam tidak memandang sebelah mata kaum wanita, seperti yang diisukan kaum feminis. Sebaliknya, Islam memposisikan peran wanita sejajar dengan laki-laki sesuai porsinya. Kalau laki-laki bisa berjihad di medan perang, maka kita bisa berjihad ketika melahirkan insan mungil. Bahkan Islam membolehkan (tidak mewajibkan) wanita bekancah di ranah publik, asalkan tidak meninggalkan kewajiban utamanya di rumah tangga. Misalnya, Khadijah yang menjadi pebisnis sukses di masanya, atau sahabat Shafiyyah Binti Abdul Muthalib yang berani menghadapi penyusup Yahudi seraya membunuhnya dengan tiang tenda. Yang perlu kita camkan gals, Allah SWT adil dalam mengatur peran wanita dan laki-laki. Yang membedakan hanya ketaqwaannya saja. Adil ga harus sama kan? Apa kamu yang SMA rela neh dikasih uang jajan 2000 rupiah, sama kayak adek kita yang masih TK? Ya engga dong!!

Selasa, 31 Mei 2011

Penampilan “Sempurna” ?

Gals, pernah keluar malem kan? Pastinya pernah dong. Ga mungkin lah kalo kita cuma keluar di siang hari, emang bangau…hehe. By the way gals, sewaktu kita mutusin untuk keluar di saat rembulan muncul, pasti kita pengen tampil elok nan kinclong. Absolutely. Demikian juga ama rekan-rekan kita. Ada yang berlomba untuk tampil secantik dan se-sempurna mungkin setiap mau keluar rumah. Mulai dari memakai baju “modern” yang kekecilan, biar seksi katanya (astaghfirullah). Menempel kosmetik yang mempertebal kulit wajah, dan pernak-pernik cewek lain yang konon bakal menambah PD-nya. Duuh…sampe segitunya.Memang gals, kelihatannya keluar malam untuk hal yang ga penting-penting amat, semisal shopping, kumpul-kumpul ama teman, atau sekedar ngeceng di mall, seakan sudah menjadi kebiasaan cewek zaman sekarang. Katanya sich, hal tersebut menyenangkan, bahkan bisa disebut upaya melepas lelah (emang jalan kaki di mall ga capek apa…hehe). Apalagi plus penampilan “sempurna”. Bener ga sih, gals? Wah, kalau mau tahu lebih lanjut, pantengin terus tulisan ini. Ga bakalan rugi deh.Nah gals, kita tidak bisa pungkiri bahwa hidup di zaman yang serba modern, akan membuat remaja cewek berusaha untuk ngerubah apapun dari dirinya menjadi “yang lebih baik”. Lebih girly, modis, pokoknya harus ngikuti trend masa kini. Beneran tu?!
Gals, fenomena di atas membuat kita harus teliti lebih jauh lagi. Apakah dengan berpenampilan menarik menjadi sebuah impian “wajib” bagi cewek? Ternyata gals, hal ini ngga sekonyong-konyong muncul gitu aja. Ada beberapa pihak yang punya andil sampe para cewek setengah mati ngejar impian itu. Salah satunya adalah media, termasuk berbagai iklan yang mempropagandakan bahwa wanita “sempurna” adalah wanita yang cantik, putih dan modern. Konsep inilah yang diagung-agungkan oleh berbagai majalah dan tabloid kecantikan dan fashion. Bahkan sudah dihembuskan pada anak-anak remaja melalui rubrik seputar fashion, gaya hidup dll. Wah, parah dong!
Trus, kalo kita lebih dalem lagi ngebahas hal ini, melalui media tadi para cewek diarahkan agar memiliki life style yang mendewakan kecantikan, konsumtif dan materialis. Lihat saja, sebuah survey di Amerika menunjukkan bahwa para perempuan telah menyediakan anggaran khusus untuk “memelihara kecantikan” hingga sepertiga dari seluruh pendapatan mereka. Duile gals, mbok ya sadar! Nah, gambaran seperti inipun terjadi di negeri kita yang kita tinggali ini lho. Mereka seakan tidak perduli dengan kejadian di sekitar, yang ada di benak mereka hanya gimana caranya agar mereka terlihat “sempurna”.
Dari sini, siapa sih yang diuntungin? Yup, tentu aja industri-industri alat kecantikan, kosmetik dan fashion-lah yang meraup keuntungan sangat besar dari bisnis ini. Bagaimana tidak, semakin banyak konsumen yang membeli produknya pasti menambah pundi-pundi keuntungan baginya. So jangan heran, berbagai image dan impian itu akhirnya terus dipelihara dan dikembangkan dari waktu ke waktu.
Sesungguhnya gals, apa yang terjadi jelas adalah bentuk-bentuk keburukan di era jahiliyah yang dikemas dalam baju modernitas. Kita bisa ambil contoh pada zaman Yunani dulu, cewek-cewek dibalut dengan pakaian yang memamerkan sebagian besar auratnya. Sedangkan perbedaan antara zaman jahiliyah dari berbagai peradaban dengan zaman sekarang hanya terletak pada bahan pakaiannya saja. Dulu dari besi atau daun, sekarang dari sutera atau katun. Iya kan.
Konon, pada peradaban Romawi dan Yunani, wanita dipandang sebagai alat pemuas nafsu dan komoditas yang diperjualbelikan. Sementara, peradaban Yahudi memandang kaum wanita sebagai warga kelas dua. Penindasan dan diskriminasi banyak dialami oleh cewek-cewek Yahudi. Kondisi perempuan pada masa Peradaban Arab pra-Islam juga sangat memprihatinkan. Mereka dianggap sebagai harta benda yang diwariskan. Bahkan, mereka rela mengubur hidup-hidup bayi perempuan yang baru aja lahir. Sedangkan, masyarakat Eropa pada abad ke-19 memandang kaum perempuan sebagai sesuatu yang terpinggirkan. Ya, begitulah peradaban jahiliyah dalam memandang kaum perempuan. Mereka hanya dianggap sebagai pemuas nafsu syahwat dan barang yang dapat diperjualbelikan dengan harga murah. Ngeri banget!!!
Di saat peradaban-peradaban lain menempatkan wanita menjadi kelas dua, Islam datang membawa ajaran yang luhur dan agung. Islam menempatkan perempuan pada posisi yang mulia. Islam juga memberi kesempatan yang sama untuk meraih pahala tanpa memandang jenis kelamin. Sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah,…Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (TQS. Al-Ahzab: 35).
Kehormatan wanita dalam Islam benar-benar dilindungi. Mengapa? Karena wanita adalah perhiasan berharga yang harusnya dipelihara, bukan dieksploitasi dan diekspos tanpa batasan. Sebagaimana Rasul bersabda “Dunia dan segala isinya adalah perhiasan, tetapi sebaik-baik perhiasan di dunia adalah perempuan shalihah”.
Gals, memang ga salah kalo kita pengen tampil sempurna, namun sewajarnya saja. Jangan berlebihan. Rasulullah SAW melarang seorang wanita untuk bersolek atau berdandan dengan berlebihan. Dan seorang wanita yang udah baligh, ga diperbolehkan untuk memperlihatkan auratnya (yaitu seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan). Kepada orang yang bukan mahramnya (keluarga) atau suaminya. Selain itu gals, jangan sampe deh kita ikut-ikutan terhadap segala hal yang ga baik menurut Islam. Dengan alasan pengen tahu, penasaran dll. Jangan deh. Soalnya Allah SWT udah ngasih warning, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.” (TQS. Al-Israa’ : 36). Rasul juga bersabda: “Siapa saja yang melakukan perbuatan yang tidak sesuai tuntutanku, maka perbuatan itu tertolak.” (HR. Bukhari)
Jadi gals, budaya yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam maka wajib untuk kita tolak. Walaupun budaya itu sedang tren. Jangan takut dibilang gak trendy. Itu sih pendapat manusia. Sedangkan pahala Allah dan pujian dari-Nya lebih menggiurkan daripada dunia seisinya. Betul nggak gals?
So, pastikan kita sebagai barisan terdepan untuk. berpenampilan sempurna dengan mentaati segala yang diperintahkan Allah. En, jadikan syariat Islam sebagai acuan kita dalam mengarungi kehidupan ini hanya untuk meraih RidhoNya. Amin.

Seorang Tukang Becak Yang Luar Biasa

Mungkin ini adalah cerita lama. tapi saya tertarik ingin mengulasnya lagi mengingat sudah berkurangnya rasa solidaritas pada bangsa ini.Kalau orang kaya mau menyumbangkan hartanya tentu itu bukan suatu keajaiban. Tapi kalau orang miskin mau menyumbangkan hartanya berbagi dangan yang lain itu sangat mengetuk hati kita. Berikut ini kisang seorang Bai fang Li, seorang tukang becak miskin yang menyumbang seluruh hartanya untuk anak-anak miskin.

BAI FANG LI adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.

Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.
 
Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.

Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.

“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….” jawab anak itu.

“Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.

“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…” sahut anak itu.

Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm… tapi masih cukup bagus… gumannya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.

Bai Fang Li berkata, “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan……” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis……..

Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 ( setara 470 juta rupiah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.

Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan ” Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”.

Kacamata Yang Kotor

  Suatu ketika ada seorang anggota DPR yang tugas keluar negeri untuk studi banding tentang tata kenegaraan ke suatu negara. Kedudukannya adalah ketua rombongan, sehingga wajar kalau disegani oleh seluruh anggota rombongan. Usianya sudah cukup untuk dikatakan tua. Agak kesulitan jika melihat sesuatu yang ada didekatnya. Oleh karenanya, saat membaca, saat melihat sesuatu yang dekat dibutuhkan alat bantu berupa kacamata.

Semua tugas telah dilaksanakan, tibalah saatnya waktu yang dinanti-nantikan. Yaitu free time yang biasa diisi dengan pergi ketempat wisata dan berbelanja atau sekedar membeli oleh-oleh. Sesuai pesanan keluarga, oleh-oleh kali ini berupa hiasan yang bisa dipasang di dinding, atau di meja ruang keluarga.

Tiap mengunjungi tempat wisata, selalu keluar kata-kata kagum dan pujian. Tentunya hal ini diangguki oleh para pendampingnya. Selesai agenda jalan-jalan, selanjutnya adalah mencari cendera mata.

Kali ini tujuan adalah ke toko penjual cendera mata. Diperhatikannya tiap pernik cendera mata dengan seksama, dan tentunya memakai kacamata. Namun ternyata ketua rombongan ini kurang berkenan dengan cendera mata yang dipajang di toko. Perkataan yang keluar hanyalah ungkapan-ungkapan negatif. Ya kotorlah, kurang bagus, warna yang berantakan, dan lain-lain. Terpaksa pindah ke toko lain. Di toko lain pun, tetap sama, hingga akhirnya keluar masuk toko hingga pulang ke Indonesia dengan tidak membawa apa yang dipesankan keluarga.

Sesampainya di rumah, barulah sadar jika kacamata yang ia pakai ternyata kotor.

Artikel dan cerita kali ini berkaitan dengan persepsi. Maaf karena memakai kata DPR, bukan bermaksud apa-apa, ini hanya cerita fiktif saja. Jika memang benar, kebetulan saja.  Yang merasa, silahkan tersinggung.

Cerita diatas menggambarkan bahwa segala peristiwa dan kejadian dalam kehidupan ini akan terlihat positif ataupun tidak tergantung dari kacamata yang kita pakai. Kacamata yang kita pakai akan membentuk persepsi, yaitu cara pandang berdasarkan pola pikir dan perilaku.

Setiap orang dapat mendeskripsikan situasi atau kejadian secara berbeda berdasarkan penglihatan mereka. Persepsi tersebut akan mempengaruhi pola pikir serta tindakan selanjutnya.

Dr. Wayne Dyer mengatakan, “When you change the way you look at things, the things you look at change. – Ketika Anda mengubah cara pandang terhadap sesuatu, maka apa yang Anda lihat akan berubah.”

Berpikir dan bersikap optimis tentu membantu persepsi Anda lebih jernih, sehingga nampak jelas peluang-peluang baru yang dapat menolong situasi Anda atau memandu Anda menuju sukses dan kebahagiaan.

Bekerja Sepenuh Hati


  Suatu Ketika Mercedez Benz owner memiliki masalah dengan kran air di kamar mandi dalam rumahnya. Kran tersebut selalu bocor sampai Big Bos Marcedez itu khawatir akan keselamatan anaknya yang mungkin saja dapat terpeleset dan jatuh.

Mengikuti rekomendasi temannya, Mr. Benz menghubungi tukang ledeng agar memperbaiki kran miliknya. Akhirnya dibuat perjanjian untuk memperbaiki yaitu 2 hari kemudian. Karena si tukang ledeng cukup sibuk. Sama sekali si Tukang ledeng tidak mengetahui bahwa si penelpon adalah  termasuk orang penting, pemilik perusahaan mobil terbesar di Jerman.

Setelah ditelpon, satu hari kemudian si tukang ledeng menghubungi Mr. Benz untuk menyampaikan ucapan terima kasih karena telah bersedia menunggu hingga satu hari lagi. Mr. Benz pun kagum atas pelayanan si tukang ledeng dan cara berbicaranya.

Hari berikutnya pada hari yang telah ditentukan, si tukang ledeng datang untuk memperbaiki kran yang bocor di rumah Mr. Benz.

Setelah diutak-atik, akhirnya kran pun selesai diperbaiki dan setelah menerima pembayaran atas jasanya, si tukang ledeng pulang .

Sekitar 2(dua) minggu kemudian setelah hari itu, si tukang ledeng menelpon Mr. Benz untuk menanyakan apakah kran yang telah diperbaiki sudah benar-benar beres dan tidak ada masalah yang timbul? Ternyata Mr. Benz puas akan kerja si tukang ledeng dan mengucapkan terima kasih atas pelayanan si tukang ledeng. Mr. Benz berpikir, bahwa orang ini pasti orang yang hebat walaupun hanya tukang ledeng.

Beberapa bulan kemudian Mr. Benz merekrut si tukang ledeng untuk bekerja di perusahaannya. Tahukah Anda siapa namanya?

Ya, dialah Christopher L. Jr. Saat ini jabatannya adalah General Manager Customer Satisfaction and Public Relation di Mercedez Benz !
========

Cerita diatas memberikan motivasi kepada kita untuk memberikan yang terbaik di kehidupan ini apapun posisi kita saat ini. Kita tidak tahu, sebenarnya posisi kehidupan kita dimana, namun dengan memberikan yang terbaik, kita tidak akan menoleh kebelakang melihat goresan cerita kehidupan kita dengan kekecewaan. Yang ada hanyalah senyum kepuasan akan apa yang telah kita lakukan.

Kehidupan ini hanyalah panggung sandiwara, maka sebaik-baik pemain adalah yang bermain sebaik mungkin dengan kesadaran bahwa perannya hanya sementara.

Ada naskah dan skenario Sang Pencipta yang tidak kita tahu.

Dibalik kebahagiaan, terkadang skenario selanjutnya adalah kesediihan, begitu pula terkadang dibalik kesedihan, skenario selanjutnya adalah kebahagiaan.

Hanya 2 hal yang dapat kita lakukan, yaitu meyakini bahwa skenario yang Allah berikan adalah yang terbaik dan berbuat yang terbaik dalam melalui setiap peristiwa kehidupan kita.

"maka jika Sahabat dalam kesedihan, kegalauan hati, keresahan jiwa, ingatlah bahwa itu hanya sementara…"